Minggu, 29 Agustus 2010

RINGKASAN BERITA 2

News publik :

PEREKONOMIAN DUNIA SEBABKAN RUPIAH FLUKTUATIP
Perekonomian dunia yang fluktuatif menimbulkan pula nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat berfluktuatif. Jika perekonomian dunia mengkhawatirkan, nilai tukar rupiah pasti melemah. Sebaliknya, jika perekonomian dunia normal-normal saja atau relatif lebih baik, maka nilai tukar rupiah terhadap dollar pun akan membaik.
Jadi, itu karena persoalan data perekonomi dunia, yang membuat rupiah berfluktuasi.
-- Darmin Nasution

Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, seusai menghadiri upacara pemberian penghargaan tanda kehormatan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/8/2010) sore.

"Jadi, itu karena persoalan data perekonomi dunia, yang membuat rupiah berfluktuasi. Jika ekonomi dunia mengkhawatirkan, rupiah pasti melemah. Akan tetapi, jika nanti normal-normal saja atau relatif baik dan kita pun juga baik, maka rupiah pun membaik juga," tandasnya.

Menurut Darmin, sekarang ini mata uang dunia sedang rentan. Berbagai data ekonomi dari dunia, seperti di AS, Eropa dan China, sekarang ini memang melemah. "Ini memang aneh. Kalau ekonomi orang lain melemah, rupiahnya pun ikut melemah. Akan tetapi, kalau ekonominya menguat, sama juga akibatnya, menguat juga," tambahnya.

Semua mata uang melemah

Dikatakan Darmin, jika ekonomi dunia sedang melemah semuanya, tentu mencari mata uang yang kuat dan aman, yaitu mata uang dollar AS. Akan tetapi, jika tenang-tenang saja dan ekonominya berkembang atau relatif baik, rupiah akan menguat.

"Itu yang terjadi lagi sekarang, menguat lagi. Jadi, intinya, semuanya jangan terlalu terpengaruh dengan perubahan mata uang rupiah secara harian. Yang perlu dilihat adalah bagaimana rata-ratanya nanti sepanjang tahun," jelas Darmin.

Darmin memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS rata-rata sejak Januari hingga awal Agustus lalu berkisar Rp 9.130 per dollar AS. "Kalau target BI sebesar Rp 9.150 per dollar AS. Akan tetapi kelihatannya, akan lebih kuat lagi, yakni saya kira Rp 9.100 per dollar AS," lanjutnya.

Namun, Darmin mengakui penguatan rupiah sekarang ini bukan yang terbesar dibandingkan negara lainnya. "Mungkin kita yang ketiga atau keberapa. Jika tidak, ya cadangan devisa kita tidak akan sebesar sekarang ini, yaitu mencapai 80 miliar dollar AS lebih," ujar Darmin.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat sore tercatat mencapai kisaran Rp 8.965-Rp 8.975 per dollar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 27 poin menjadi Rp 8.992-Rp 9.012 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya Rp 8.965-Rp 8.975.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 01.54 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
Yenny Wahid Melahirkan Nama Cucu Gus Dur: Maica Aurora Madhura
Maica Aurora Madhura. Begitulah nama yang diberikan untuk cucu keluarga besar mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Maica lahir di Jakarta, Jumat (13/8/2010) sekitar pukul 22.27 WIB.

Maica Aurora Madhura adalah putri Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman binti Abdurrahman Wahid (Yenny Wahid) yang menikah dengan Dhohir Farisi, anggota DPR RI dari Partai Hanura asal Probolinggo, Jawa Timur.

Mudah ditebak, Madhura merujuk pada nama suku bangsa Madura yang mengalir pada diri suami Yenny, Dhohir Farisi.

Berkat kemudahan self-publishing di era internet, kabar sukacita itu disebarkan oleh saudara Yenny, Anita Wahid dan Alissa Wahid, lewat akun Twitter-nya.

Allissa Wahid mengabarkan dalam keterbatasan 140 karakter dengan kalimat seperti ini, "Alhamdulillaah.. Penghuni baru kelg Ciganjur, putri dari @yennywahid & cak dhohir farisi telah hadir dg selamat.. Terimakasih doanya, twends."

Sementara Anita Wahid menyebutkan, Maica Aurora Madhura terlahir dengan berat 3.780 gram. "Ibu & anak alhamdulillah sehat," tulis Anita, sekaligus mengunggah foto bayi tersebut.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 01.50 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
LABA-LABA RAKSASA PEMANGSA BURUNG
Joel Shakespeare, seorang petugas yang bekerja di Australian Reptile Park, menyatakan, laba-laba tersebut merupakan jenis Golden Orb Weaver. “Biasanya mereka menangkap serangga besar… sangat jarang mereka menangkap seekor burung,” ungkapnya kepada ninemsn.com.

Selain itu, dia menambahkan, laba-laba Golden Orb Weaver ini ukurannya sebesar telapak tangan manusia, tetapi spesies yang sama di bagian utara daerah itu diketahui ukurannya lebih besar lagi.

Menurut pihak Museum Queensland, burung tersebut adalah jenis Chestnut-breasted Mannikin. Joel Shakespeare menambahkan, “Burung itu pasti terbang ke arah sarang laba-laba tersebut dan terjerat di sana, laba-laba itu akan menyantapnya habis.”

“Laba-laba itu akan menggunakan racunnya untuk melunakkan dagingnya dan apa yang tersisa hanyalah 'bungkusnya',” ujarnya.

Pihak Museum Queensland, Greg Czechura, mengatakan, ”Memang diketahui secara umum, laba-laba jenis ini menangkap burung berukuran kecil, tetapi hal ini jarang terjadi. Laba-laba ini membangun sarang yang sangat kuat, tetapi dia tidak akan menggigit dan menyerang burung itu hingga burung itu lemah kehabisan tenaga,” ujarnya.

Laba-laba Golden Orb Weaver ini membangun pusaran jeratnya yang kuat dengan kandungan protein yang tinggi karena dia sangat bergantung padanya untuk menangkap serangga besar sebagai mangsanya.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 01.47 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
NEW YORK Obama Jadi 'Backing' Pembangunan Masjid
Rencana pembangunan masjid di dekat tempat kejadian perkara (TKP) serangan 11 September 2001 menjadi persoalan kontroversial di New York. Paling tidak, kelompok konservatif seperti mantan kandidat presiden dari Republik, Sarah Palin, dan banyak warga kota New York memilih berseberangan dengan ide itu.

Termasuk di dalam kelompok penentang adalah para keluarga korban tragedi memilukan itu. Alasan mereka, pembangunan masjid merupakan bentuk "pengkhianatan" terhadap kenangan para korban.

Namun, pilihan berbeda justru menjadi kehendak Presiden Barack Obama. "Sebagai seorang warga negara, sebagai seorang presiden, saya percaya umat Muslim mempunyai hak yang sama untuk menjalankan hidup keagamaan mereka, sama halnya dengan warga negara AS lainnya," kata Obama sebagaimana warta Reuters, Jumat (13/8/2010).

Obama menyatakan hal itu saat dikunjungi para diplomat negara-negara Islam dan para anggota komunitas Muslim AS. Ia sendiri, dalam kesempatan itu, menjadi tuan rumah acara membatalkan puasa di Gedung Putih.

"Persamaan hak tersebut termasuk hak membangun tempat ibadah dan pusat komunitas Muslim di kawasan properti swasta di pusat kota Manhattan, sesuai dengan peraturan yang berlaku," tambah Obama menegaskan.

Awal bulan ini, sebuah agen properti di kota New York memang menegaskan adanya rencana pembangunan pusat komunitas berikut masjid yang terletak cuma dua blok dari TKP yang dimaksud. Warga New York lazim menyebut TKP itu sebagai "Ground Zero".

"Ini Amerika dan komitmen kami untuk kebebasan beragama mestinya tak perlu digoncangkan," imbuh Obama yang sudah menjalin kerja sama antara US dan dunia Muslim sebagai salah satu batu penjuru kebijakan politik pemerintahannya.

Lebih lanjut, Obama mengatakan bahwa Al Qaeda tidak sama dengan Islam. "Al Qaeda adalah distorsi dari Islam. Tidak ada pemimpin keagamaan di Al Qaeda, yang ada adalah teroris yang membunuh orang-orang tak berdosa," kata Obama menekankan.

Tak hanya Obama ternyata yang menjadi "backing" ide tersebut. Wali Kota New York Michael Bloomberg adalah orang pertama yang mendukung rencana itu sebagai bagian dari upaya mengembangkan komunitas-komunitas keagamaan di kota tersebut.

Sebagai catatan, 2.750 orang tewas pada kejadian tersebut lantaran dua buah pesawat penumpang yang dibajak kelompok Al Qaeda ditabrakkan ke kedua gedung kembar World Trade Center.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 01.46 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
KISAH HIDUP DARI LOKALISASI KE TASBIH
Suparni adalah potret kebanyakan dari perempuan yang terjerumus ke prostitusi. Ia miskin papa. Beruntung, sebelum jauh terjerumus, Suparni sudah insaf.
Dulu, ketika masih jadi "orang nakal", dapat duit gampang dan jumlahnya cukup banyak. Tapi selalu cepat habis tak berbekas.
-- Suparni

Kini, dalam usia 60 tahun, Suparni adalah tukang cuci baju dan pemijat. Yang lebih menyentuh lagi, dia aktivis sebuah majelis Yasinan di desanya, Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang, Jawa Timur.

Siapa pun tentu tak pernah bercita-cita menjadi pelacur, profesi yang disebut dengan macam-macam sebutan; kupu-kupu malam, wanita tuna susila, perempuan eksperimen, dan pekerja seks komersial. Belum lagi yang sangat kasar dalam aneka bahasa daerah di Indonesia.

Tetapi, inilah potret seorang Suparni, si kupu-kupu malam yang bertobat. Malam itu, setelah selesai memijat pelanggannya, berceritalah Suparni tua tentang Suparni muda.

Ia menikah cepat, bercerai dengan segera pula. Suaminya dari Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang Kota. Ketika bercerai pada tahun 1950-an itu, usianya baru 19 tahun. Jakarta tentu sedang sibuk dengan jargon-jargon besar di bawah bendera revolusi.

Suparni memang masih punya orangtua, Ngatemo-Sampiran, tetapi mereka hanya penjual kacang keliling. Suparni tak bisa diam ketika melihat orangtuanya lebih sering hanya makan sekali dalam sehari. Dia bertekad membantu.

Namun, dengan pendidikan formal tak lulus SD, Suparni menyadari dirinya tak bisa bekerja di pabrik. Jalan pintas pun ditempuh. Diantar orangtuanya, dia nekat menumpang angkutan menuju Watutulis, Sidoarjo.

Suparni mengenang, di Watutulis saat itu ada lokalisasi kelas bawah berupa warung remang-remang. “Sekarang mungkin sudah tidak ada,” kata Suparni.

Watutulis adalah wilayah tua yang mulai ramai berkat baron-baron Eropa mendirikan pabrik gula menjelang rampungnya abad 19. Lazim terjadi, prostitusi marak di sekitar orang ramai macam pabrik gula.

Sejarah memberitahu, pabrik-pabrik gula segera bertebaran setelah Gubernur Jenderal Belanda Van Den Bosch pada 13 Agustus 1830 setuju penanaman tebu besar-besaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pabrik gula di sana masih berdiri sampai sekarang, nama resminya PG Watoetoelis. Ia tak terlalu jauh dari PG Toelangan, Sidoarjo, yang dipakai Pramoedya Ananta Toer untuk setting novel masyhurnya, Bumi Manusia.

Adapun Suparni tak mengais uang dengan jual tubuh di sana. Selanjutnya, dia berpindah-pindah lokalisasi. Mula-mula lokalisasi Jarak di Surabaya, kemudian lokalisasi Balongcangkring asuhan mendiang Suwono Blong di Mojokerto. Itu dilakoninya hingga tahun 1975.

Yang unik, di kompleks mana pun dia berpraktik, hampir tiap hari Suparni selalu pulang ke rumahnya di Jombang.

“Saya berangkat dengan menumpang truk sore hari, dan pulang ke rumah subuh. Kalau kebetulan hujan, saya berpayung daun pisang diantar bapak sampai di tepi jalan untuk mencegat truk yang lewat,” katanya.

Cara itu dilakukan karena dia setiap hari harus menyerahkan uang hasil kerjanya kepada orangtuanya, dan demi merawat dua keponakannya yang masih kecil, yang ikut di rumah kedua orangtuanya.

Suparni mengaku cukup "laris" di mana pun dia berpraktik. Rahasianya, dia hampir selalu memberikan servis lebih kepada laki-laki hidung belang konsumennya.

“Kalau habis main, biasanya saya pijat tubuhnya,” kata Suparni membeberkan rahasianya. Itu sebabnya, imbuh Suparni, laki-laki hidung belang yang sudah pernah dilayaninya, bukan hanya satu kali datang, melainkan beberapa kali.

Aktivitas jual jasa seks di kompleks-kompleks PSK mulai dihentikan akhir tahun 1970-an. Namun, aktivitas prostitusinya jalan terus. Sebab, saat itu dia punya gendhakan tetap, seorang pengemudi truk angkutan minyak tanah asal Ambon yang berdomisili di Jombang.

“Saya biasanya diajak ke rumahnya. Kebetulan dia tidak punya istri, perjaka tua,” imbuh Suparni.

Tetapi, itu tak berlangsung lama. Tahun 1980, dia mendadak terserang diare kronis, hingga harus digotong ke rumah sakit. Dia sempat mengira ajal akan segera menjemputnya. Saat itulah dia menyadari dirinya bergelimang dosa, sedangkan bekal untuk mati sama sekali belum ada.

Dalam keadaan sakit, Suparni lantas berjanji dalam hati untuk menghentikan pekerjaannya yang penuh dosa dan akan kembali ke jalan yang diridai Allah setelah sembuh.

Awalnya, niat kembali ke jalan yang benar itu tidak gampang dilakoni. Banyak godaan yang berupaya untuk membawanya kembali ke dunia hitam.

Gendhakan-nya sendiri, misalnya, ngotot agar Suparni tetap bekerja seperti sedia kala. Bahkan, si gendhakan berjanji akan segera menikahinya jika Suparni tetap menjalani profesinya.

“Tapi saya tak percaya. Masak mau memperistri, tapi kok juga menjerumuskan. Saya lantas meninggalkan dia,” tutur Suparni.

Dari para tetangga, cibiran-cibiran dan kecurigaan juga muncul tatkala Suparni mulai banting setir dengan bekerja serabutan, mulai cuci baju, bersih-bersih rumah, serta ikut membantu tetangga menyiapkan sate ayam untuk dijual keliling.

“Tapi, saya berusaha sabar. Bagi saya waktu itu, apa pun pekerjaan akan saya lakukan asalkan halal. Tak peduli apa omongan orang,” katanya.

Akhirnya, karena kesungguhan Suparni untuk kembali ke jalan yang benar, masyarakat di desanya mulai menaruh kepercayaan. Mereka yang tahu Suparni juga bisa memijat, mulai memakai jasanya.

Karena pijatannya manjur untuk mengatasi pegal linu dan capek, nama Suparni jadi dikenal sehingga permintaan pijat cukup banyak berdatangan. Sekali memijat, Suparni biasanya dibayar Rp 20.000 sampai Rp 25.000.

Permintaan pijat berasal dari warga tetangga sedesa ataupun warga desa lain. Para pelanggannya ada yang profesi tukang becak, ibu rumah tangga, ustaz, ustazah, sampai pegawai bank, guru, dan dosen.

“Kalau ada pelanggan di luar desa, biasanya saya dibonceng sepeda motor oleh kerabat atau anaknya,” jelas Suparni.

“Tidak tahu, selalu saja tiap hari ada orang yang minta dipijat. Saya jadi percaya, asalkan kita sungguh-sungguh bekerja dan pekerjaan itu halal, Tuhan akan memberi kita rezeki,” katanya.

Suparni juga merasakan, rezeki yang halal ternyata membawa barokah. Sekarang, meskipun sedikit-sedikit, dia bisa menabung. Padahal, sehari-hari dia pun turut membantu ekonomi keluarga keponakannya yang tinggal bersamanya saat ini.

“Dulu, ketika masih jadi 'orang nakal', dapat duit gampang dan jumlahnya cukup banyak. Tapi selalu cepat habis tak berbekas,” katanya.

Seiring dengan itu, aktivitas ibadahnya juga kian ditingkatkan, baik ibadah pribadi seperti shalat lima waktu berjemaah di mushala dusun setempat maupun aktif menjadi majelis Yasinan. Seorang tetangganya mengatakan, dia tak pernah melihat Suparni absen di pengajian.

Kalau malam tiba, jika lagi tidak ada kegiatan atau panggilan pijat, dia memilih nongkrong di depan pesawat televisi. Hobinya memang nonton sinetron religi Ketika Cinta Bertasbih.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 01.36 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
Jumat, 13 Agustus 2010
Hariman Yakin Demokrasi Kita Akan Jatuh
Hariman Siregar, aktivis sepuh yang identik dengan gerakan mahasiswa berujung Malapetaka 15 Januari 1974 di Jakarta, mengatakan, demokrasi di Indonesia semakin mahal dan menjauh dari ideal. Hariman pun meragukan demokrasi bisa bertahan.

"Saya ragu demokrasi bisa bertahan. Tidak tahu kapan, tapi saya yakin kejatuhan demokrasi akan terjadi," kata Hariman, yang juga pendiri Nextlead Indonesia dalam diskusi di Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Menurut dia, demokrasi di Indonesia semakin mahal tetapi tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

"Proses-proses demokrasi tidak lagi ada hubungannya dengan rakyat. Rakyat hanya untuk mengeruk popularitas yang dilakukan melalui cara yang mahal, pemilu yang mahal, kampanye ala Amerika Serikat yang mahal, semua dengan uang dan ini jelas tidak mendorong demokratisasi sebenarnya," katanya.

Ia menambahkan, banyak kandidat yang tidak memiliki akar di masyarakat namun hanya mengandalkan popularitas yang dibeli melalui beragam media dan juga politik uang.

"Partai hanya menjadi fungsi legitimasi, pemberi cap, dan gagal menjalankan fungsinya sebagai pengkader para pemimpin," katanya.

Kondisi ini, menurut dia, cepat atau lambat akan membuat demokrasi semakin kehilangan daya dukungnya.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES di 19.38 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
Minggu, 08 Agustus 2010
42 MILIAR DI SELEWENG KAN DI SUNGAI PENUH
Menyikapi pembangunan secara Kasat mata di Kota Sungai Penuh kita semua mengetahui dan melihatnya, namun mungkin tidak banyak yang tahu anggaran pemnbangunan sekitar 42 Milyar lebih saat ini diselewengkan utk kepentingan politik pihak2 tertentu dengan pengerjaan proyek bagi rakyat yang asal asalan dan bagaimana seharusnya kualitas hasil yang diinginkan untuk pembangunan Kota Sungai Penuh saat ini baik itu fisik infrstruktur seperti jalan, Jembatan dan Irigasi, maupun administrasi pemerintahan dan tugas-tugas pemerintahan sehari-hari.
Adapun temuan kesalahan dan penyimpangan yang dapat kita cek bersama-sama antara lain:
1. Proyek Jalan Kota Paket A Pondok Agung, Talang Lindung sepanjang 10,826 KM senilai 6,52 Milyar Oleh kontraktor PT. Merangin Karya Sejati ( MKS ) sangat amburadul, tidak layak bayar dan merugikan anggaran Negara. Kualitasnya tidak sesuai biaya yang dikeluarkan. Untuk itu meminta kepada DPRD Kota Sungai Penuh merekomendasikan agar tidak harus dibayar oleh Negara dalam hal ini pihak Dinas PU Kota sungai Penuh.
2. Tidak Proporsionalnya pembangunan antara wilayah Kecamatan Sungai Penuh dengan kecamatan2 lain dalam lingkup Kota Sungai Penuh, terutama di kecamatan Hamparan Rawang Maliki Air, Pesisir Bukit Koto Bento, Koto Baru Dujung Sakti arah Kubang, Kumun Debai dan Tanah Kampung. Sedangkan jalan lingkungan di Sungai Penuh walaupun tidak termasuk jalan raya semuanya diaspal.
3. Penjabat walikota Hasvia MTP disinyalir menggunakan fasilitas Negara, termasuk mempengaruhi Kepala dan Perangkat SKPD Dinas Pemerintahan untuk melakukan lobby-lobby politik ke partai dan sosialisasi untuk kepentingan pencalonannya sebagai walikota berikutnya dalam Pilwako Desember mendatang. Kita sangat mengecamnya.

4. Kami mengecam tindakan Hasvia yang menolak perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci, hal ini sama artinya mengaburkan dan menolak keberadaan kesatuan masyarakat adat Sakti Alam Kerinci.

Wassalam,


ABUZAR, SH
Direktur Umum
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar